Oleh : Obby AR. Wiramihardja
Ketua Umum Masyarakat Musik Angklung
(MMA – Angklung Music Society)
“……… Kudu bener atuh ari kasebutna ngajar mah, ulah aya guru ngajarkeun 2×2 = 5 ……. (harus benar dong kalau ngajar itu, jangan ada guru mengajarkan 2×2 = 5). …… Singkat kata segala hal harus benar, ritme benar, tempo benar, dinamik benar, aransemen benar, nada-nadanya harus benar (tidak ada yang fals)…….”
“Culpikan surat pribadi Pak Daeng (Bapak Angklung) pada penulis tertanggal 3 September 1975”
Pendidikan musik yang merupakan salah satu aspek dari keseluruhan pendidikan kesenian merupakan sarana untuk membantu anak didik membentuk pribadinya melalui penanaman dan peresapan rasa indah/peka dalam usaha membentuk atau menemukan diri pribadinya sehingga menjadi manusia berbudi pekerti luhur yang kreatif/estetis sebagai salah satu aspek penting bagi totalitas pembinaan anak didik sebagai penerus bangsa.
Kehalusan kepekaan perasaan sebagai hasil peresapan rasa indah merupakan pengantar yang tetap dalam rangka pembinaan watak, serta budi pekerti luhurnya, dan musik merupakan salah satu sarannya yang tepat bagi kesejahteraan lahir maupun batin yang sangat diperlukan bagi setiap bangsa.
Pendidikan musik angklung yang diberikan di sekolah-sekolah maupun perkumpulan/organisasi kesenian di luar sekolah sampai saat ini masih jauh dari yang diharapkan, maka perlu disempurnakan guna mencapai sasaran yang lebih luas dan konkrit serta lebih relevan dengan kepentingan kesejahteraan masyarakat.
Jadi dalam hal ini diperlukan lebih banyak Guru yang bermutu tinggi. Guru-guru yang mengerti arti pentingnya pendidikan musik angklung bagi pembinaan watak dan mental anak didik yang mempunyai pengertian dasar musik angklung yang luas dan tahu cara mengajarkan kepada anak didik.
Guna menunjukan berhasilnya penataran-penataran bagi guru musik angklung di sekolah-sekolah umum untuk :
1. Meningkatkan kemampuan dasar musik mereka secara menyeluruh.
2. Mempelajari/mengetahui seluk-beluk “Angklung” (dari mulai mengajar, melaras, membuat aransemen, membuat angklung dan lain sebagainya).
Hal-hal ini harus secepatnya dilaksanakan secara merata.
Selanjutnya mengenai peralatan merupakan suatu hal yang merupakan penilaian khusus, karena di dalam metode pendidikan musik angklung ini, disamping pelajaran musik permainan alat-alat (angklung) dapat juga memberikan pelajaran vocal.
Penggunaan alat musik angklung ini dapat juga dikombinasikan dengan alat-alat musik tradisional lainnya, seperti kolintang, musik tiup bambu atau alat-alat ritmis, misalnya : ketimpung, tik-tok atau atau kentongan disamping alat-alat musik Barat seperti Cello, Kobtra Bess, Drum, Cymbal dan lain sebagainya, dengan catatan bahwa “pitch: atau tinggi rendahnya nada dari alat-alat tersebut harus dibuat setepat-tepatnya disesuaikan dengan standar Internasional (A.440).
PENGERTIAN SENI
Istilah seni muncul pada waktu pendidikan Jepang. Menurut I Gusti Bagus Sugriwa (seorang tokoh ahli kebudayaan Bali) bahwa batasan seni berasal dari bahasa Sansekerta. Dari asal kata San-Sani yang berarti kecintaan, pemujaan dan kemudian dalam bahasa Indonesia menjadi Seni.
Arti bebas dari Seni adalah rasa halus dan suci yang dipergunakan untuk mencurahkan gambaran batin kepada pemuja kecintaan, kesenangan, hormat, memberikan dan menerima sesuatu.
Dari definisi di atas maka kita dapat melihat bahwa Seni adalah pencerminan dari hati nurani manusia yang tulus dan suci yaitu cinta yang agung. Cinta yang agung yang diwujudkan dalam hasil karya untk dapat dinikmati oleh manusia lain dengan perasaan cinta pula.
Cinta yang agung ialah cinta kepada Tuhan Yang Maha Esa, cinta kepada sesama umat manusia, cinta kepada bangsa dan tanah air, cinta kepada kemerdekaan dan cinta kepada keadilan.
Kita mengetahui betapa luas dan dalamnya pengertian seni merupakan kebutuhan manusia dari hasil nilainya. Tentu saja nilai yang positif dan dari nilai ini manusia akan mendapatkan pengalaman yang berharga untuk dihayati. Pencapaian nilai positif ini merupakan suatu pemuasan yang dibutuhkan oleh instinct manusia. Pemuasan ini seketika dirasakan sebagai suatu kebahagiaan dan inilah pula yang diakibatkan oleh karya seni.
Ia dapat mempunyai nilai-nilai yang lain sebagai sesuatu yang memberikan keuntungan materil, sebagai suatu yang dapat mempertinggi moral atau memperdalam suatu agama.
Seni menyentuh semua peri kehidupan manusia dan menjadi satu dengan segala aktivitasnya.
Maka dapat pula diartikan.
Seni adalah hasil perwujudan (manifestasi) keindahan dari aktivitas manusia yang menyeluruh.
Aktivitas manusia yang menyeluruh sebagai kesatuan jiwa dan raga untuk dapat mewujudkan keindahan, karenanya seni yang diciptakan harus merupakan manivestasi dari kehidupan manusia untuk bisa dinikmati oleh pribadi manusia pula.
ANGKLUNG PASCA PAK DAENG SOETIGNA
Kegiatan Pak Daeng dalam mengembangkan angklung tidak terbatas pada pengembangan mutunya, melainkan juga pengembangan dalam arti penyebarluasan. Dibinanya Daeng-daeng Muda sehingga tersebar di berbagai daerah, sebagai penerus. Pada dasawarsa tujuh puluhan tampak dengan jelas betapa angklung mencapai puncak kejayaannya. Apresiasi terhadapnya tidak terbatas di lingkungan tanah air saja, melainkan jauh lebih meluas ke Negara tetangga. Dari sebuah produsen angklung saja ratusan set diekspor ke Malaysia setiap tahun, sebagai salah satu komoditi non migas.
Menginjak dasawarsa delapan puluhan, menurut pengamatan saya, tampaknya perkembangan angklung tidak sehebat dasawarsa sebelumnya, seolah-olah menjadi kemadegan.
Mudah-mudahan konstatasi saya itu meleset, tetapi kalau benar, timbul beberapa pertanyaan, apa yang menjadi sebabnya. Tidak mustahil diakbitakan oleh proses masa produksi, sehingga kurang terjaga, karena kwantitas, atau mungkin juga disebabkan karena para Daeng muda terlalu cepat berpuas diri dengan apa yang telah dicapai. Namun bagaimanapun juga yang menjadi sebabnya, satu hal yang perlu saya sampaikan dengan segala kerendahan hati tetapi dengan penuh kesungguhan, mudah-mudahan kretivitas aktivitas inovatif dan agresif Pak Daeng Soetigna dalam mengembangkan tidak ikut terkubur bersama almarhum.
Dalam rangka mengembangkan musik angklung Pak Daeng Soetigna dibantu oleh murid-muridnya antara lain: 1. Sanusi E.S, 2. Udjo Ngalagena (Pendiri Saung Angklung Udjo), 3. Agam Ngadimin, 4. Hidayat Winitasasmita, 5. Opan Sopandi, 6. Handiman, 7. Obby AR. Wiramihardja, 8. Eddy Permadi dan 9. Erwin Anwar, SH, juga perajin-perajin angklung antara lain Pak Adis, Mang Asa dan kawan-kawan.
ANGKLUNG SEBAGAI ALAT PENDIDIKAN
Adalah suatu hal yang mudah/sering dilupakan oleh pemimpin-pemimpin seni suara, yakni soal perhatian murid. Soal ini merupakan sesuatu yang sangat penting dalam tiap-tipa pelajaran seni suara. Bukankah antar lain tujuan pelajaran ini bermaksud agar supaya anak-anak itu “mencintai” seni suara?
Soal perhatian ini penting sekali untuk diketahui, terutama oleh mereka yang memimpin anak-anak di luar pelajaran dan latihan-latihan apapun juga : gamelan, kecapi, seni suara Barat, dan sebagainya, selalu dinilai dengan semangat. Akan tetapi dapatkah perhatian itu tahan lama? Berapa bulankah “perkumpulan” itu dapat dipertahankan? Ya, kadang-kadang berapa minggukah?
Kesulitan ini sebenarnya dengan mudah dapat diatasi. Ya, hampir saya ingin mengatakan, bahwa perhatian dari pihak anak-anak itu tak perlu kita bangkitkan dulu. Perhatian terhadap seni suara adalah sifat dari anak-anak pula. Ia telah dibawa oleh setiap anak, dan usaha kita pun hanyalah tinggal menjaga agar perhatian itu tetap hidup dan bergelora. Artinya tidak mengenal bosan.
Adapun syarat mutlak untuk mencegah penyakit bosan itu, sesungguhnya terletak dalam cara dan bentuk latihan-latihan itu diberikan. Terutama hendaknya anak-anak
itu insyaf, bahwa segenap daya dan usaha yang kita selenggarakan itu, adalah guna kepentingannya sendiri, untuk hiburan, untuk kesenangan pelajar-pelajar sendiri. Karena itu berikanlah kepada anak-anak itu “permainan”, dalam arti kata bahwa setiap acara dan bahan-bahan pelajaran hendaknya di susun sedemikian rupa, hingga senantiasa merupakan pusat perhatian mereka. Hanyalah dengan jalan demikian, yakni dalam suasana yang sesuai dengan jiwanya anak-anak, dapat diharapkan akan kekalnya penghargaan mereka terhadap seni suara.
Soal lain yang penting, serta yang ada hubungannya pula dengan perhatian tersebut, yakni usia anak-anak. Pada umumnya kita mengetahui, bahwa minat kepada seni suara itu, yang bermula pada anak-anak kelihatannya sederhana, setelah mereka menginjak masa remaja, seolah-olah bangkit dengan tiba-tiba. Karena itu langkah sayangnya, jika pada saat sebaik ini, misalnya dikalangan anak-anak sekolah lanjutan, karena tak adanya pimpinan, anak-anak itu terasing sekali dari pengaruh-pengaruh seni suara yang baik.
Sesuatu yang lain, yang kerap kali menjadi bahan perbincangan dalam pendidikan seni suara, ialah soal kesulitan alat-alat. Bagaimanakah alat-alat yang serba mahal itu bisa didapat. Betapa besar faedahnya alat seni suara itu, sekalipun yang sangat sederhana, sebagai suatu alat pendidikan untuk mengembangkan perasaan seni suara (perasaan musik) pada anak-anak, pernah saya terapkan. Lebih jauh saya peringatkan uaraian saya tentang musikalis, terutama penjelasannya mengenai anasir pengetahuan dan kecakapan. Menurut pengalaman, acap kali terbukti, bahwa murid-murid yang dikelasnya kadang-kadang telah dicap sebagai “tidak musical”, pada umunya dapat pula mempelajari seni suara seperti teman-temannya yang lain, yakni dengan mempergunakan alat. Teranglah, bahwa untuk dapat membunyikan sebuah alat seni suara – misalnya sebuah suling – anak-anak itu memerlukan dulu berbagai latihan. Juga si-pandai-menyanyi dalam hal ini tak dapat dikecualikan. Anak-anak itu belajar “membaca” huruf musik, belajar memilih nada-nada, alhasil belajar bergaul dengan seni suara, serta membangkitkan minatnya. Pendek kata dengan mempergunakan alat-alat seni suara itu, maka terbukalah kesempatan baik, bagi mereka yang tak dapat bernyanyi untuk aktif serta bersama handai taulannya dan………………………… perasaan rendah diri terhindar.
Adapun perkakas yang terbaik untuk dipergunakan sebagai alat pelajaran, ialah serdam atau seruling : Suling bambu untuk lagu-lagu Jawa dan Sunda, dan Blokfluit untuk perangkat Barat. Alat-alat tersebut selain merdu suaranya dan mudah dipergunakan, dua-duanya sungguh berfaedah sebagai alat pendidikan, karena genap memuat semua nada yang harus diketahui oleh pelajar-pelajar. Blokfluit yang kromatis dan suling-berlubang-enam (bukan suling degung) dapat diperguanakan baik untuk laras pelog, maupun untuk Selendro. Terhadap Blokfluit “took” (buatan luar negeri) pasti ada keberatan karena “harganya”. Akan tetapi apakah keberatannnya untuk membuat sendiri alat-alat semacam itu? Misalnya dari bambu?
Rumpun Bambu tampak hamper diseluruh tanah air.
Saudara-saudara, itulah gudang alat-alat pelajaran kita, bagian seni suara yang tidak mengenal istilah mewah dan mahal. Bermacam-macam alat seni suara dapat dibuat dari bambu; misalnya angklung, calung, celempung, gambang, suling, bangsing, karinding, (genggong), hatong, rengkong, goong. Ya, Indonesia tanah yang kaya. Juga lapangan kebudayaannya kaya raya. Tetapi banyak yang masih terpendam, banyak yang tersembunyi. Dan kita harus gali, harus cari, dan selidiki untuk dapat mengeluarkan harta bendanya yang indah permai. ……….
Sesungguhnya : sebagai alat seni suara, angklung itu banyak cacatnya, banyak kekurangannya. Ia tidak sempurna, akan tetapi sebagai alat pendidikan, untuk dibagikan kepada anak-anak dalam usaha kita hendak memberikan pengetahuan, ini saya dapat pertanggungjawabkan. Singkat kata, dengan cara yang saya lakukan sekarang, angklung itu tidak dapat kita persamakan dengan sebuah vulpen, yang menghiasi kantong bagi setiap orang, serta yang senantiasa siap sedia untuk sewaktu-waktu dipergunakan menandatangani, akan tetapi saya misalkan : sebuah anak batu tulis, dimana selamanya dibutuhkan batu tulis serta yang berguna untuk belajar menulis.
“……….Samemeh Bapak maot, Bapak ngawariskeun ieu angklung teh ka Obby, usahakeun ku Obby supaya tetep nanjung, terus berkembang nepika jucung pisan. Pertahankalah jangan sampai ada yang menyelewengkan. Bapak nemplokkeun sagala kapercayaan ka Obby kalawan restu sareng do’a ti Bapak. Gede pisan pangharepan yen awal-akhir Obby teh pasti akan berhasil……….”
Cuplikan Surat Pribadi Pak Daeng (Bapak Angklung – Bandung 3 September 1975).












Fantastic website. I was checking constantly this site and I am impressed! Very useful information specially the last part I care for such information much.
The very heart of your writing while sounding agreeable in the beginning, did not really sit very well with me after some time. Someplace throughout the sentences you were able to make me a believer unfortunately only for a short while. I nevertheless have got a problem with your jumps in logic and one would do nicely to help fill in those breaks. If you can accomplish that, I will definitely end up being impressed.