Bandung Bukan Hanya Angklung

Sore itu waktu baru menunjukkan pukul 15.00, namun untaian bus-bus pariwisata tampak berdesakan berlomba menyusuri jalan kecil di wilayah Padasuka, Bandung. Tukang ojeg, polisi “cepe” menjadi sibuk terlibat mengatur dan berlomba mencari penumpang, menawarkan jasa mengantar ke sebuah alamat di Jalan Padasuka 118. Di tempat itu, tampak ratusan anak kecil berlarian mengenakan busana tradisional Sunda dengan riasan muka ala kadarnya, sambil menenteng alat musik tradisional berasal dari bambu. Ibu-ibu pedagang tak kalah sibuknya menyiapkan kudapan-kudapan ringan yang semoga dapat membantu menghilangkan lapar dan dahaga para pelancong yang berkunjung.

Di tempat itu, Saung Angklung Udjo, kesibukan sepanjang sore telah menjadi sebuah “ritual” bagi penduduk Kampung Padasuka, Kelurahan Pasir Layung, sejak tahun 1966. Adalah seorang Udjo Ngalagena sosok yang berjasa mengubah rona kampung tersebut. Kampung yang kini dikenal menjadi destinasi seni budaya utama di Indonesia. Pada tahun 2008, APEC FORUM tourism bahkan telah memilih Saung Angklung Udjo sebagai salah satu destinasi wisata budaya terbaik dari seluruh objek wisata budaya berbasis pengembangan masyarakat se-Asia dan Pasifik. Penghargaan Emas PATA pada tahun 2004 untuk kategori Heritage and Cultural Destination pun seolah menegaskan bahwa di Saung Angklung Udjo, model pemuliaan (konservasi, pelestarian, dan pengembangan) budaya ternyata dapat menjadi manfaat ekonomis bagi para pelakunya. Bagi pemerintah tentunya model seperti ini merupakan model dambaan, dikarenakan tidak hanya tujuan pemuliaan budaya, tujuan peningkatan nilai ekonomis dan penurunan angka pengangguran pun dapat dicapai.

Ditengah keriuhan suasana para turis yang berjajar rapi, siap dikalungkan cenderamata angklung dan masuk ke area sanggar, sebuah kelelawar raksasa nampak bertatap pandangan dengan para wisatawan. Si Bungsu, kelelawar jantan peliharaan alm Udjo Ngalagena tampak telah terbiasa dengan ganguan kilatan-kilatan lampu kamera. Kebiasaan itu menjadikannya binatang siang daripada binatang malam. Sebuah paradok, seperti halnya juga paradok pengembangan seni daerah di Kota Bandung.

Diumur 200 tahun Kota Bandung, dengan potensi lebih dari 769 lingkung seni dan lebih dari 300 jenis kesenian , mengapa hanya sedikit sekali sanggar kesenian yang mampu bertahan dan berkembang? Apabila diukur dengan skala industri, tampaknya hanya angklung saja yang mampu bertahan dan berkembang. Padahal hampir semua seniman, budayawan dan birokrat Kota Bandung setuju bahwa potensi kesenian selain angklung memiliki nilai jual yang tak kalah hebatnya. Catatan statistik pengembangan seni daerah menyebutkan bahwa sepanjang tahun 2003 hingga 2009, telah bertambah sebanyak 467 sanggar kesenian. Dengan arti lain bahwa sebetulnya terdapat pengembangan yang cukup tinggi atas jumlah pelaku atau produsen kesenian. Namun pertanyaannya dimanakah mereka berada?

Bagi Kota Bandung, fenomena monopoli industri seni tradisi Saung Angklung Udjo sesungguhnya dapat berdampak negatif, yaitu dengan dapat dicoretnya Kota Bandung dalam tujuan destinasi wisata Budaya Indonesia. Tidak seperti kota-kota lain, Solo dan Jogjakarta misalnya. Dalam satu hari pengunjung dapat mengunjungi lebih dari satu objek wisata budaya, yang berarti bertambah penghasilan bagi para pelaku seni daerah, lebih banyak lahan apresiasi dan tentunya kesenian yang digeluti akan tetap lestari. Namun, lain padang lain ilalang, lain lubuk lain ikannya. Entah apa yang terjadi di kota Bandung tercinta ini?

***

Sambil memandangi suasana toko cinderamata Saung Angklung Udjo, terpampang sosok bersahaja dalam sebuah figura foto berukuran 36 R. sosok seorang kakek tua dengan janggut putih menjuntai dan angklung yang cukup besar. Tertulis sebuah catatan:

What you are
What job you have choosen
Do it well
Do it with love
Without love, you are dead before you die
(Udjo Ngalagena 1929 – 2001)

Pikiran kemudian mulai menemukan jawaban, bahwa landasan kecintaan atau militansi dalam berkesenian merupakan fondasi utama dalam mengembangkan pemuliaan seni daerah. Namun selain itu bila berkaca pada keriuhan dan tata kelola Saung Angklung Udjo, tampaknya manajemen kesenian merupakan hal mutlak dalam berkembangnya sebuah pengelolaan sanggar seni daerah. Teringat ucapan tokoh ASITA senior bapak Maktal Hidayat yang berujar bahwa Sosok Udjo Ngalagena lebih dekat dengan sosok seorang pengusaha (entrepreneur) kesenian, dibanding seniman murni. Sebuah kenyataan yang memang terbukti dengan tetap berkembangnya sanggar tidak hanya dalam sektor seni namun juga usaha.

Tak lama seorang gadis manis menghampiri, menyapa dan menawarkan badrek sebagai minuman pelepas dahaga. Terlihat jelas sebuah bross angklung disematkan di dada kirinya, bertuliskan “Trainee – Sekolah Tinggi Pariwisata”, ternyata demikian pula yang tertulis pada pemuda dibalik komputer yang tengah sibuk menulis laporan “ Trainee – Akuntansi Unpad”.

Jawaban ketiga mulai menyeruak, ternyata dalam membangun dan mengembangkan seni daerah, bukan hanya militansi dan manajemen kesenian semata, Pelibatan seluruh elemen dan disiplin ilmu yang berbeda pun merupakan keharusan. Tak terbayang rasanya bila seorang seniman diharuskan menjadi penerima tamu, mencatat pembukuan keuangan, menerima telepon masuk, apa jadinya dengan seni itu sendiri?

Langkah kaki kemudian menyusuri ruang-ruang terbuka dan taman belakang Sari Asih di sanggar seni Saung Angklung Udjo. Terlihat anak-anak riang berlarian, beberapa diantaranya lincah menggerakan kaki dan tangannya mengikuti irama tabuhan kendang dan gamelan yang dibunyikan. Di sebelah barat tampak lelaki setengah baya tengah memandikan Domba Garut ditonton para turis asing yang takjub melihat ukuran tanduk sang domba. Disebelah timur rombongan ibu-Ibu berkerudung tampak serius mendengarkan penjelasan seorang bapak berseragam dinas, dengan logo Koperasi di bahu kirinya. Orang berbisik bahwa ibu-ibu tersebut merupakan pengrajin angklung yang tengah diajari mengenai pengelolaan koperasi. Tak jauh dari tempat tersebut terpampang tulisan, “Di sini akan dibangun ruang pelatihan dan koperasi warga Pasir Layung”.

Menyaksikan hal tersebut, akhirnya jawaban selanjutnya terpampang jelas, bahwa dalam mengembangakan seni daerah kota pun harus melakukan pengembangan yang terintegrasi, strategi pengembangan seni daerah haruslah ditegakkan beriringan melalui prasarana atau infrastruktur budaya, yang meliputi perangkat lunak, yaitu pemahaman sikap dan gagasan, kelembagaan SDM, program dan fasilitas fisik.

Sayup-sayup terdengar pengumuman dari area bale karesmen, seorang pewara mengumkan bahwa pertunjukan bambu petang akan segera dimulai. Sambil melangkah menuju area pertunjukan, senyum simpul tersungging di bibir ini, karena menyadari bahwa:

  • Militansi berkesenian yang didasari atas kecintaan
  • Konsep tata kelola atau management
  • Pelibatan seluruh elemen dan disiplin ilmu
  • Pengembangan yang terintegrasi

merupakan langkah-langkah sederhana yang ternyata dapat membuat sanggar Saung Angklung Udjo terus berkembang.

***

Berkaca dari perjalanan sanggar seni Saung Angklung Udjo dalam mengembangkan seni angklung dan bisnisnya, hal tersebut dapat dijadikan contoh sederhana bagaimana kita dapat mengembangkan seni daerah di kota Bandung tercinta ini. Bila rasa saling menghargai, serta kerjasama masing-masing sektor dilakukan secara terintegrasi, tentu suatu saat seluruh pengunjung, warga kota maupun wisatawan akan sepakat mengatakan bahwa di Bandung, kesenian bukan hanya angklung saja!

Bandung, 28 Juli 2010

Satria Yanuar Akbar

Share it and Enjoy:
  • Facebook
  • Twitter
  • Tumblr
  • MySpace
  • LinkedIn
  • del.icio.us
  • Yahoo! Buzz
  • Google Bookmarks
  • RSS